jump to navigation

Perjalanan Ke Jogja April 25, 2009

Posted by admin in : Uncategorized , add a comment

Hari ini check out. Semua sudah naik ke bis hampir tepat pukul 09.00 WITA. Empat bis tidak bisa selalu berjalan beriringan. Ketika bis 1 dan 3 sudah sampai Gilimanuk, ada kabar bahwa bis 4 mogok di Rambutsiwi. Di sana terpaksa bis 2 tidak bisa terus berjalan karena crew-nya ikut membantu memperbaiki bis 4. Dengar-dengar, tanki bensin bis 4 sedikit tercampur air. Tapi akhirnya semua bis bisa sampai juga ke rumah makan Wina di Banyuwangi. Penyeberangan berlangsung lancar.
Tiba di rumah makan Wina adalah sekitar pukul 14.20 WIB. Makan siang belum tersedia, tapi penyiapannya tidak memakan waktu lama. Kira-kira setengah jam kemudian, bis 2 dan 4 tiba di Wina. Udara panas sekali.
Di Wina ini ada hotspot gratis via Speedy, tapi koneksinya lambat sekali. Ini saya tulis dengan koneksi Speedy di Wina. Meskipun lambat, tapi lumayan untuk sekedar menjawab email, dan mengupdate blog ini. Perjalanan masih panjang.

Hari Ketiga - Jum’at: 24 April 2009 April 25, 2009

Posted by admin in : Uncategorized , 1 comment so far

OK. Akhirnya hari terakhir datang juga. Pagi tadi saya masih kekurangan tidur, tapi pekerjaan akhirnya selesai juga. Itu yang membuat lega. Meski ini menjadi pekerjaan memotret saya jadi terasa kurang intens. Tampaknya kali ini saya tidak akan bisa melampaui jumlah foto tahun lalu, yaitu 1400an.
Seharusnya hari ini rombongan pergi ke Pura Besakih, tapi karena di pura terbesar itu sedang ada upacara, maka kunjungan diarahkan ke tempat lain, yaitu yang seharusnya dilakukan kemarin: Sukawati.
Di Sukawati, apalagi yang dilakukan kalau tidak belanja ? Kebetulan sekali di tempat ini tersedia cukup banyak ATM, sehingga permintaan beberapa mahasiswa untuk kesempatan mengambil uang di ATM dapat terkabul di tempat ini. Tidak ada yang terlalu berbeda antara tahun lalu dan tahun ini. Barang yang dijual ya tetap yang itu itu juga. Ya ini adalah menurut orang yang sudah berkali-kali mengunjungi Sukawati. Yang berbeda barangkali adalah harga. Saya masih ingat ketika harga terendah kaos bisa ada di bawah 10 ribu. Hari ini, angka itu sudah jadi pas 10 ribu atau lebih. Dan seperti biasanya, keasyikan belanja membuat banyak mahasiswa lupa waktu. Tempat berikutnya adalah Kertha Gosa, Klungkung.
Di Kertha Gosa, selain mengunjungi tempat pengadilan umum dan museum itu, rombongan juga dapat kesempatan untuk sholat Jum’at di mesjid di sekitar Kertha Gosa. Sesudah sholat Jum’at, makan siang dibagikan, lalu rombongan segera pergi ke tempat berikutnya. Pola ini selalu berjalan setiap KKL. Akibatnya, selalu saja hanya sedikit mahasiswa yang masuk ke Kertha Gosa, apalagi sampai mengunjungi ke dalam museum. Idealnya, sementara mahasiswa sholat Jum’at, mahasiswi masuk ke Kertha Gosa, tapi nampaknya hal itu tidak terjadi. Hanya beberapa mahasiswi saja yang masuk ke sana. Dari Klungkung, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kuta.
Bis besar dan panjang tidak bisa langsung masuk ke Kuta. Akibatnya rombongan harus turun di Central Parkir. Dari situ semua harus naik angkot khusus yang sudah disediakan untuk ke pantai, yaitu yang disebut Komotra. Di pantai, tidak ada yang aneh lagi. Di mana-mana yang namanya pantai ya seperti itu. Hanya untuk Kuta, adanya gurauan soal ’sumur’ barangkali tinggal gurauan saja. Dulu saya pernah menemukannya, namun tampaknya hari ini hal itu sudah berkurang. Atau saya bilang begini karena saya tidak keliling pantai ? Memang yang saya lakukan adalah duduk di McD sambil memeriksa buku tugas.
Dulu, kunjungan ke Pantai Kuta sering membawa masalah karena mahasiswa sering telat datang ke Central Parkir. Tapi untung kali ini hal itu tidak terlalu menjadi masalah. Memang ada mahasiswa yang terlambat datang, tapi bisa diatasi dengan naik taksi. Hampir semua mahasiswa sekarang ini punya HP. Itulah yang membuat perbedaan besar. Dari Kuta, rombongan melanjutkan kunjungan ke atraksi Tari Barong Keris, sekaligus makan malam dan Farewell Party.
Masalah muncul. Begitu sampai Sanggar Sari Wisata Budaya di Suwung Bypass, ternyata tempat itu sedang mengalami pemadaman listrik. Acara nyaris gagal, tapi akhirnya dengan memasang beberapa lilin di bagian pinggir panggung, tarian tetap dijalankan, meski untuk melihatnya menjadi sangat tidak nyaman. Yang seratus persen gagal adalah acara Farewell Party. Biasanya ada acara nyanyi-nyanyi atau lucu-lucuan, tapi kali ini semua itu tidak ada. Tidak ada listrik. Akibatnya acara di tempat ini dipercepat, setelah kata sambutan dari Pak Iyo (yang menghadirkan semua alumni STBA yang datang ke atas panggung), berikutnya adalah pengumuman, dan doa. Sesudah itu semua menuju bis untuk pulang ke hotel. Tiba di hotel adalah sekitar 23.30 WITA. Aneh juga. Tidak ada acara Farewell Party tapi kok waktu kedatangan ke hotel tetap saja larut ?
Di Bali tinggal sehari besok. Rencananya, check out dari hotel adalah pukul 09.00 pagi.

Hari Kedua - Kamis: 23 April 2009 April 25, 2009

Posted by admin in : Uncategorized , add a comment

Setelah makan pagi, kunjungan pertama hari ini adalah ke BTDC. Biasanya rombongan STBA diterima di Wantilan. Tapi kali ini tempat itu digunakan untuk sebuah upacara, maka rombongan STBA diterima di sebuah tempat rapat. Tempat rapat itu cukup bagus, sound system-nya, kursinya, kebersihannya, hiasan dindingnya, … tapi yang kurang adalah … jumlah tempat duduknya. Akibatnya, sebagian besar peserta KKL terpaksa duduk di lantai. Setelah mendengarkan ceramah, seperti biasa, diadakan sesi tanya jawab. Acara tanya jawab ini saya rekam. Dari BTDC, rombongan menuju Kintamani untuk makan siang dan melihat pemandangan.
Dalam perjalanan menuju Kintamani, salah satu bis, yaitu bis 4, mengalami gangguan mesin. Mesin sangat panas dan tidak mungkin dipaksa untuk sampai ke Kintamani terutama untuk melewati jalan mendaki yang cukup curam itu. Di Tirta Empul, tiga dari empat bis berkumpul. Diputuskan bahwa anggota regu 4 dibagi dua, setengahnya masuk ke bis 1 dan bis 3. Dengan cara begini akhirnya semua rombongan bisa sampai ke Kintamani. Di Kintamani, setelah makan siang selesai, bis pengganti datang. Oleh karena itu perjalanan ke tempat berikutnya tidak mengalami gangguan.
Tidak ada yang terlalu berbeda di Restoran Kintamani. Pak Noviar, pemilik tempat ini, tidak ada di tempat. Lalat berkeliaran cukup banyak. Meski tidak terlalu mengganggu, tapi kehadirannya cukup mempengaruhi selera makan. Memang restoran ini menyajikan menu yang tipikal, sehingga untuk Saya yang sudah berkali-kali datang ke tempat ini akan mengatakan bahwa menunya nyaris sama dengan yang disajikan tahun lalu. Soal rasa, semua orang percaya pada reputasi restoran ini. Menurut saya enak, tapi akan jauh lebih enak lagi kalau makannya santai dan badan tidak lengket dengan keringat, dan yang penting … tidak terburu-buru. Oh iya, tahun lalu saya melihat fasilitas telepon satelit untuk umum di tempat ini. Yang saya lihat, fasilitas itu sekarang sudah tidak ada. Dari sini perjalanan dilanjutkan ke Pura Kehen. Sementara itu, di semua bis, praktek guiding sudah mulai dijalankan.
Kunjungan ke tempat ini sebenarnya tidak dijadwalkan. Tempat ini sebenarnya adalah sebuah alternatif daripada harus ke Besakih yang sekarang sedang penuh sesak dengan orang-orang yang sedang upacara. Di Kehen, yang ada hanya pura. Pura kuno. Nampaknya memang hari-hari ini pura ini sepi pengunjung. Penjual barang souvenir pun tidak terlalu banyak. Dari yang ada pun hanya beberapa yang buka. Kalau para pemandu wisata tidak bercerita bisa jadi kunjungan ke tempat ini menjadi sangat tidak menarik. Hanya mereka yang mendengarkan cerita mereka yang akan bisa punya penghargaan bahwa pura ini adalah pura yang spesial.  Tempat berikutnya adalah GWK.
Di GWK, rombongan tiba dengan cuaca yang sudah nyaris gelap. Ini membuat banyak mahasiswa sama sekali tidak bisa melihat patung kepala itu. Apalagi ada himbauan bahwa bila begitu datang pertunjukan tari Kecak sudah dimulai maka lebih baik masuk ke amphiteater dan tidak berjalan-jalan. Beberapa mahasiswa terdengar kecewa. Satu hal ketika di GWK adalah, tari Kecak yang ditampilkan ternyata bukanlah versi yang asli. Jelas sekali sudah dilakukan perubahan yang drastis pada tarian yang terkenal ini. Pertama, seluruh sajian tarian diiringi alat musik. Kedua, suara cak-cak kini ditengarai atau seolah ingin diganti dengan pukulan kayu ke ruas bambu yang dibawa oleh para penari. Ketiga, ada masukan unsur tarian yang jelas-jelas bukan dari Bali. Yang saya lihat ada tarian yang merupakan bagian dari pertunjukan reog Ponorogo, tarian orang Irian, dan mungkin pengaruh tarian Madura. Keempat, sudah tidak ada lagi formasi melingkar yang dilakukan oleh para penari pria yang bertelanjang dada itu. Last but not least, ada adegan kuda lumping yang jelas-jelas bukan merupakan pertunjukan khas Bali. Dari GWK, rombongan langsung ke tempat makan malam sea food, yaitu Jimbaran.
Sebelum datang ke Jimbaran, semua mahasiswa sudah diberi peringatan kalau-kalau ada yang alergi pada makanan laut. Ini karena yang disajikan adalah ikan laut, udang, kepiting, cumi-cumi, dan kerang. Acara di sini berjalan lancar, meski awalnya sempat hampir ada protes karena lamanya makanan datang. Tapi ketika makanan datang, mereka menyajikannya dengan cukup cepat untuk rombongan yang jumlahnya 172 orang ini. Ketika sedang asyik makan, tanpa sadar ada Sarah Azhari dengan seorang bule lewat. Big deal ?

Hari Pertama - Rabu: 22 April 2009 April 25, 2009

Posted by admin in : Uncategorized , add a comment

Karena kesibukan yang luar biasa, jurnal KKL ini baru saya tulis lagi, tepat ketika hari ini, 25 April, KKL diakhiri di Suwung By Pass. Semua relatif berjalan lancar meskipun ada beberapa gangguan. Karena ada pengertian dari para mahasiswa peserta KKL kekurangan-kekurangan tersebut dapat diterima dengan lapang dada.
Hari pertama ditandai dengan kunjungan ke Diparda. Rombongan diterima di tempat yang sama seperti tahun lalu. Hanya kali ini yang memberikan ceramah adalah Ketua Diparda-nya langsung. Dari kunjungan ini saya mendapatkan sebuah paket yang isinya adalah kit promosi pariwisata Bali. Di dalamnya termasuk sebuah DVD yang isinya cukup menarik. Untuk memperoleh kopi DVD ini silahkan hubungi saya langsung.
Selesai di Diparda, dilanjutkan dengan kunjungan ke MonumeAan Bajra Sandhi yang tidak jauh dari Diparda. Oleh karena itu rombongan KKL cukup berjalan ke tempat ini. Cuaca yang sangat panas membuat cukup banyak peserta mengeluh. Ini juga yang menyebabkan kepergian dari tempat ini terlambat, karena banyak mahasiswa yang jajan dulu di toko Circle-K yang dekat dengan tempat parkir bis. Perjalanan lalu dilanjutkan ke Danau Beratan, Bedugul.
Di Bedugul, banyak yang mungkin sudah membayangkan akan melakukan permainan air, seperti parasailing, motor boat, dan lain-lain. Tapi semuanya jadi buyar karena tepat setelah makan siang di tempat ini, hujan yang cukup deras turun. Praktis tidak ada yang bisa dilakukan. Semua hanya menunggu hujan reda, lalu segera kembali ke bis masing-masing. Perjalanan dilanjutkan ke tempat berikutnya, yaitu Tanah Lot.
Sampai di tempat ini, cuaca sudah terang benderang, malah cenderung panas. Ada tanda-tanda bahwa sunset akan tampak dengan bagus, tapi setelah ditunggu-tunggu, matahari ternyata terhalang oleh awan. Tapi pemandangan yang ada lumayan bagus. Mahasiswa, seperti biasa, mendatangi tempat cuci muka di bawah pura itu. Air laut kebetulan sedang surut, sehingga mereka bisa jalan kaki ke sana, meski ombak sekali-kali datang cukup keras sehingga mengguyurkan air ke jalannya. Berikutnya adalah ke Angsa Putih.
Di Angsa Putih, tidak ada yang spesial buat mereka yang sudah berkali-kali datang ke tempat ini. Seperti biasa, dinner dengan suguhan tari Bali; Legong, Margapati, dan Wong Tue. Yang berbeda kali ini adalah, sendok, garpu, dan serbet tidak disediakan di meja. Semua diminta mengambil sendiri di food stall. Apakah ini bisa dikatakan penurunan mutu pelayanan ? Host tempat ini berkali-kali salah menyebutkan nama Pak Iyo sebagai "Iyo Kuswoyo". Gayung bersambut seperti yang sudah diperkirakan.
Berhubung ini adalah hari pertama di hotel, maka ketika rombongan tiba kembali ke hotel, beberapa pembimbing regu mengadakan bimbingan. Hampir semua melakukannya di lobby atau di bis. Hanya Pak Marbun yang melakukannya di kamar.
Saya yang sudah sangat letih tiba-tiba mendapatkan pekerjaan menerjemahkan yang harus selesai sebelum tanggal 24. Saya mau tidak mau menerima pekerjaan ini, tapi konsekuensinya adalah saya jadi sangat kurang tidur.

Internet di Hotel: Kini Berbayar April 22, 2009

Posted by admin in : Uncategorized , 1 comment so far

Berbeda dengan tahun lalu, di hotel yang digunakan rombongan KKL ini terdapat hotspot yang bebas digunakan secara gratis. Namun tahun ini, hal itu tidak ditemui lagi. Para pengguna diharuskan untuk membayar dengan terlebih dahulu membeli voucher di resepsionis.
Tahun lalu, koneksi Internet gratis itu menggunakan koneksi Speedy, namun koneksi yang ada sekarang menggunakan jasa dari D-Net. Demikian pula halnya dengan sistem voucher itu. Voucher yang tersedia adalah Rp 20.000,- untuk 2 jam dan Rp 50.000,- untuk 5 jam.
Setelah di coba, ternyata lokasi yang bagus untuk menggunakan hotspot di hotel ini adalah di ruang Kakatua. Ini karena di situlah letak pemancarnya.